Senin, 07 November 2011
senangkah aku?
Hari ini adalah Hari Raya Idul Adha.
dan aku termasuk salah satu panitia kurban di sekolahku.
aku senang karena Mr. J (orang yang tanpa alasan membuatku suka padanya) juga menjadi panitia kurban.
aku menjadi panitia pemotongan, sedangkan dia panitia peralatan.
sesuai instruksi ketua panitia, aku tiba di sekolah pukul 08.10 WIB. di sana sudah banyak panitia yang datang. kulihat ruang kelas yang kami pakai penuh dengan baju-baju. saatku tanya ketua, ternyata ada beberapa dari mereka yang menginap di sekolah, dan Mr. J juga. Aku senang karena bisa melihatnya. saatku membereskan pakaian mereka yang berserakan di mana-mana, kutemukan jaket hijau yang kutahu itu miliknya. aku mengetahuinya karena rasa itu mulai bergemuruh di jantungku saat dia memakai jaket itu saat pengambilan raport bayangan. sungguh teman, aku tidak menghendaki rasa ini bersarang di jantungku. aku dan dia tidak pernah berinteraksi yang kemungkinan akan menumbuhkan bibit cinta. tidak sekalipun. perlu diketahui, dia bukanlah orang biasa yang diacuhkan orang, dia mempunya kharisma yang membuat banyak wanita suka padanya. dan itu yang membuatku harus mundur, aku tidak mungkin menang lawan wanita-wanita itu, Mr. J juga tidak akan memilihku.
Setelah itu aku mendengar salah satu panitia sebut saja S, dia meminta Mr. J untuk menemaninya membeli perlengkapan yang kurang. Perih melanda jantungku. Kenapa harus dengan Mr. J? yan gmembawa motor bukan hanya dia, kenapa harus seseorang yang bisa membuatku cemburu jika dia bersama yang lain yang dipilih? Mereka berdua pun pergi entah kemana.
Beberapa saat kemudian mereka kembali. Aku senang karena bisa melihatnya dan tak jarang juga dia melihatku.
Walaupun ada rasa-rasa pahit itu tapi aku senang karena bisa bersama dengan Mr. J sepanjang hari ini.
Temanku, Arfan. Dia minta diambilkan baskom untuk keperluan memasak nasi. Aku pun memintanya pada Mr. J. “Ada baskom nggak?” tanyaku dengan jawaban pasti yaitu ada, karena memang ada baskom di ruang kelas yang kami pakai. “Berapa?” “Tiga.” Dia mencatat sesuatu. “Atas nama siapa nih?” “Ahh aku nggak tahu,” aku mulai gugup. “Umi ya?” aku merasa wangi buah semerbak di ruang kelas itu, dia menyebut namaku teman. “Hmm, bukan aku tapi Arfan.” “Ohh yaudah Arfan”. Aku senang karena bisa bicara dengannya.
Coordinator pemotongan, sebut saja A. dia ke ruang kelas untuk mencari baskom untuk wadah minum sapi. “Yang agak besar nggak ada, adanya kecil. Kayaknya **** (Mr. J) tahu deh, baskomnya putih ada hijaunya.” “Udahlah nggak apa-apa ini aja.” Kata A. dia pun pergi mengisi baskom. “Aku cariin baskom yang lebih gede lagi yah di kantin.” Aku menawarkan bantuan. “Yaudah makasih,” “Iya.” Kulihat ada baskom yang berisi beras dalam karung. “Aku pinjem baskomnya buat wadah minum sapi yah,” tanyaku pada coordinator masak. “Jangan, itu buat nasi nanti,” “Ohh yaudah makasih.”. “Baskomnya nggak ada di kantin,” kataku pada A. “Ehh itu tuhh ada ember kecil di pojok halaman belakang.” “Oke aku ambil yah,” “Iya terus isi airnya juga yah hehe.” “Iya.” Saatku ingin mengisi air, ternyata sudah ada Mr. J yang sedang mengisi air dengan baskom yang tadi tidak boleh aku pinjam. “Tadi aku pinjem nggak boleh, tapi **** (Mr. J) pinjem aja boleh.” Kataku pada coordinator masak. “Tadi aku nggak begitu paham kamu mau ngapain pake baskom.” Yasudahlah itu juga sudah berlalu. Aku melihat dengan awas Mr. J mendekatkan ember berisi air kepada sapi itu. Hahaha, lucu sekali.
Penyembelihan hewan dimulai. Dengan sedikit rasa iba aku melihat satu persatu leher sapi dan kambing yang baru saja aku beri minum mulai digorok lehernya. Kulihat di sampingku ada Mr. J. bahagia hati ini teman. Dengan pakaian muslim berwarna hitam dengan corak merah dan celana jeans hitam, dia tampak berkharisma.
teman, harusnya sekarang aku masih tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi siang saat aku dan dia memotong daging bersama. aku yang memegang dagingnya dia yang memotong. walaupun dia bukan panitia pemotongan, dia tetap membantu kami (panitia pemotongan) karena dia juga tidak ada kerjaan selain itu juga karena memburu waktu. tapi kini ada rasa pedih di ulu hatiku. jadi saat kami memotong daging bersama, aku melihat dia memakai jam. aku ingin bilang "jamnya dilepas aja, nanti kena daging jadi bau lho." tapi aku urungkan. lagipula kami memotong dagingnya hanya sebentar. beberapa saat kemudian aku mendapati jam tangannya berada di pergelangan tangan temanku, sebutlah F. F adalah teman SMPku, dia juga temannya Mr. J tapi tidak tahu teman di mana. pada saat pengumuman seleksi masuk SMA ini, dia pernah menyebut nama Mr. J untuk dicarikan di daftar siswa yang lolos seleksi. mereka memang sudah kenal lama sepertinya. rasanya seperti pisau besar yang tajam yang tadi aku gunakan untuk memotong daging itu menyayat jantung ini dalam-dalam. perih sekali teman. aku juga ingat betul saat sebelum pemotongan, aku meminta baskom padanya, karena dia kan panitia peralatan. aku bilang "Eeeeeee, minta itu dooong......" tak terlanjutkan karena aku gugup sekali, jantung ini tak mau kompromi saat itu. "Apa hayo apa?" tampak meledek sepertinya. "Eeeeee... itu anu..." aku masih tergagap-gagap. "Ohh, baskom." aku mulai mengendalikan diri. bayangkan bagaimana "Cengok"nya wajahku saat itu. kalian tahu latar adegan tersebut terjadi? di ruang kelas, tepatnya di pintu yang hanya salah satunya terbuka. jarak kami berdua tidak jauh. aku melihat matanya yang terhalang kacamata. aku melihat senyumnya saat ia meledek "Apa? hayo apa?". berkali-kali juga kami bertemu di ruang kelas, di tempat pemotongan, di kantin, astagfirullah itu membuatku ingin selalu bersamanya. teman, tapi saat aku menulis ini bukan senang yang kurasakan. begitu pedih dengan ditemani lagu "Ijinkan Aku Menyayangimu" dari Iwan Fals.
Setelah lelah bekerja, kami istirahat. Tapi karena panitia pembagian sedang makan siang, jadi aku menggantikannya. Dengan sigap kami melayani pemilik kupon yang ingin menukarkan kuponnya dengan daging. Ada guru yang juga ingin menukarkan kupon milik tetangganya, aku melayani dia duluan. Kemudian Mr. J. menyentuh pundakku dan berkata “mereka dulu yang dilayanin, kasihan sudah lama nunggu, guru nanti aja.” “Ohh maaf-maaf, iya.”
Setelah pembagian, aku mencari Mr. J kesana kemari tapi tak juga ada. Setelah mulai pasrah, aku bertanya pada temanku sebutlah T, dia adalah coordinator keamanan. “T, lihat **** (Mr. J) nggak?” “Ohh itu dia ada di gerbang depan.” “Ngapain?” “Di suruh jaga keamanan sama ketua panitia.” “Emang panitia keamanan mana?” “Lagi pada makan.” “Ohh.” “Ehh itu dia, cieee.” “Ahh diem ahh kamu..” Mr. J berlalu begitu saja ke halaman belakang. Haha, tapi aku tetap senang karena sudah melihat dia yang dari tadi tak kutemukan bayangan kharismanya.
Aku lelah sekali teman, aku ke ruang kelas untuk merebahkan badan. Kulihat Mr. J sedang merebahkan badan di atas meja. Yasudahlah mungkin dia juga lelah. Tak lama kemudian aku melihat temanku F bangun dari meja yang berada di samping Mr. J. berarti selama ini mereka merebahkan badan di meja yang bersebelahan. Sakit itu kembali lagi teman. Mereka sangat dekat teman. Dan siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Sungguh aku ingin membuang rasa cinta yang menyakitkan ini. Tapi apa daya ku melawan kehendak allah swt.
Aku mencoba merebahkan diri untuk sedikit relaks, datang panitia yang lain “Yang belum ngambil daging, ngambil dulu sana.” Aku pun terbangun mendengar teriakan dia. Saatku beranjak ke pos pembagian daging, aku berpapasan dengan dia yang sudah mengambil daging duluan.
Tiba saat evaluasi kegiatan. Dia duduk di ujung belakang, aku hanya bisa melihatnya dengan malu-malu. Setelah evaluasi, aku berharap bisa bertemu dengannya di parkiran. Ahh ternyata dia tidak langsung pulang, dia main bola dulu dengan teman-temannya. Dia pun membuka jaket hijaunya, dan kembali aku melihat dia memakai baju muslim hitan dengan corak merah yang itu sangat keren teman. Aku tak mau menunggu lama untuk segera ke parkiran karena lelah sekali rasanya.
Hari ini, aku bingung ingin senang atau sedih. Apa aku senang? Tidak. Apa aku sedih? Tidak juga. Aku berharap besok aku bisa melihatnya dan semakin dekat dengannya atau tidak sama sekali dengan rasa cinta ini yang musnah.
Jumat, 04 November 2011
Di sini
Sabtu, 22 Oktober 2011.
ku kira di sana, ternyata di sini.
awalnya ku tak tahu pusatnya.
ohh dari ufuk sana.
cowok berkaca mata berjaket daun warna.
di balik punggungku.
deg.
kenapa terasa gemuruh di sini? bukan di sana?
ada apa? mengapa?
seorang istimewa juga merasakan ini padanya.
tak mungkin menyakiti seorang istimewa itu demi seorang yang baru menjadi istimewa.
tutupi. kubur.
dia lebih butuh cowok berkaca mata berjaket daun warna itu daripada aku.
tapi tak bisa ditepis bahwa aku bergejolak, bergemuruh, bergemetar.
sekali lagi. itu di sini, bukan di sana.
.
ku kira di sana, ternyata di sini.
awalnya ku tak tahu pusatnya.
ohh dari ufuk sana.
cowok berkaca mata berjaket daun warna.
di balik punggungku.
deg.
kenapa terasa gemuruh di sini? bukan di sana?
ada apa? mengapa?
seorang istimewa juga merasakan ini padanya.
tak mungkin menyakiti seorang istimewa itu demi seorang yang baru menjadi istimewa.
tutupi. kubur.
dia lebih butuh cowok berkaca mata berjaket daun warna itu daripada aku.
tapi tak bisa ditepis bahwa aku bergejolak, bergemuruh, bergemetar.
sekali lagi. itu di sini, bukan di sana.
.
Langganan:
Postingan (Atom)